Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

TELUK KELUANG: JEJAK MILIARAN RUPIAH DI TANAH YANG SUNYI

kawasan Food Estate Teluk Keluang benar-benar berhasil menjadi sentra pangan seperti yang dijanjikan?Berapa banyak petani yang memperoleh manfaat?

RESPONSIVEKALBAR,ID,KETAPANG-Ujung pesisir Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, hamparan kawasan Teluk Keluang pernah diproyeksikan menjadi harapan baru ketahanan pangan daerah. Pemerintah menjanjikan kawasan itu akan berkembang sebagai Food Estate,pusat produksi pangan yang digadang-gadang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat sektor pertanian.

Namun setelah bertahun-tahun berlalu,yang terlihat di lapangan justru menghadirkan pertanyaan lain: ke mana arah program itu berjalan, dan sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan warga?

Di beberapa titik kawasan, bangunan berdiri di tengah lingkungan yang relatif sepi. Sebagian infrastruktur yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah masih menjadi tanda tanya bagi masyarakat sekitar.Tidak sedikit warga yang mengaku tidak memahami fungsi akhir bangunan yang didirikan atas nama pengembangan kawasan Food Estate tersebut.

Berdasarkan dokumen pengadaan pemerintah daerah tahun 2020, sedikitnya hampir Rp4 miliar dana APBD Kabupaten Ketapang digelontorkan untuk sejumlah proyek yang berkaitan dengan kawasan Teluk Keluang.Anggaran itu digunakan antara lain untuk pembangunan gertak di Dusun Panca Karya,pembangunan Rumah Sederhana Sehat Perendaman di Dusun Pematang Putus, serta pembangunan Rumah Sederhana Sehat di kawasan Teluk Keluang.Nilainya tidak kecil.Namun manfaatnya hingga kini masih menjadi perdebatan.

“Kalau memang untuk masyarakat, siapa yang menempati? Apa manfaatnya? Sampai sekarang masyarakat juga tidak tahu peruntukannya,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.”Pertanyaan itu sesungguhnya sederhana. Untuk siapa bangunan-bangunan tersebut dibangun?

Di atas kertas,rumah sederhana sehat merupakan program yang bertujuan meningkatkan kualitas hunian masyarakat. Akan tetapi, keberadaan bangunan yang jauh dari pusat permukiman membuat sebagian warga kesulitan memahami hubungan langsung antara proyek tersebut dengan kebutuhan mereka sehari-hari.

Lebih jauh lagi, gaung Food Estate Teluk Keluang yang sempat menjadi program unggulan daerah kini nyaris tak terdengar.Tidak banyak informasi yang tersedia kepada publik mengenai capaian produksi, jumlah petani yang terlibat, luas lahan produktif yang berhasil dikembangkan, maupun dampaknya terhadap perekonomian masyarakat.

Padahal program ini lahir dari ambisi besar pemerintah daerah pada masa kepemimpinan mantan Bupati Ketapang Martin Rantan.Saat itu,Teluk Keluang dipromosikan sebagai kawasan strategis yang diharapkan mampu menjadi lumbung pangan baru di Kalimantan Barat.

Martin menjadi figur sentral dalam berbagai agenda pengembangan Food Estate tersebut. Sejumlah perencanaan,”pengajuan program,hingga koordinasi dengan pemerintah pusat berlangsung pada masa kepemimpinannya.Karena itu, ketika berbagai pertanyaan mulai muncul terkait efektivitas program, nama mantan orang nomor satu di Ketapang itu ikut terseret dalam pusaran sorotan publik.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi aparat penegak hukum yang menyebut Martin terlibat dalam dugaan pelanggaran hukum terkait proyek tersebut. Posisi yang muncul ke ruang publik masih sebatas tanggung jawab kebijakan sebagai kepala daerah ketika program dijalankan.

Sorotan publik justru menguat setelah Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Barat memeriksa sejumlah pejabat teknis yang terkait dengan proyek pembangunan di kawasan Food Estate.Dua pejabat Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang diketahui telah dimintai keterangan penyidik terkait dokumen proyek dan pelaksanaan pekerjaan.Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai hasil pemeriksaan tersebut.

Di tengah minimnya informasi perkembangan program, masyarakat hanya bisa melihat bangunan yang berdiri dan anggaran yang telah habis dibelanjakan. Sementara pertanyaan yang lebih penting belum memperoleh jawaban yang memadai.

Apakah kawasan Food Estate Teluk Keluang benar-benar berhasil menjadi sentra pangan seperti yang dijanjikan?Berapa banyak petani yang memperoleh manfaat?

Siapa yang menempati rumah-rumah yang dibangun menggunakan uang rakyat?Dan yang paling mendasar, apakah miliaran rupiah yang telah digelontorkan sebanding dengan hasil yang diterima masyarakat Ketapang?

Hingga pertanyaan-pertanyaan itu terjawab secara terbuka, Teluk Keluang akan terus menyisakan jejak panjang tentang proyek besar, anggaran besar, dan harapan besar yang manfaatnya masih dicari oleh publik.*(redaksi)***

Sumber : Sejumlah Sumber media online kalbar/ polda kalbar . 

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *