Solar Subsidi Diduga “Dibegal” Terorganisir di Kalbar, Truk Tanpa Pelat Bebas Antre di SPBU

Fenomena ini memunculkan dugaan adanya jaringan terorganisir yang bermain dalam distribusi solar subsidi. Sebab, aktivitas tersebut berlangsung terang

RESPONSIVE.KALBAR,ID.PONTIANAK-Dugaan praktik pembegalan BBM bersubsidi jenis solar kembali mencuat di Kalimantan Barat. Setelah sempat meredup usai adanya penertiban, aktivitas truk-truk yang diduga menjadi bagian dari jaringan penguras solar subsidi kini kembali terlihat leluasa beroperasi di sejumlah SPBU.

Pantauan awak media pada Selasa, 6 Mei 2026, menemukan antrean truk mencurigakan mulai terbentuk sesaat setelah mobil tangki Pertamina selesai melakukan pengisian stok BBM di salah satu SPBU di Kalbar.

Yang menarik, sejumlah armada diduga merupakan kendaraan lama yang sebelumnya juga kerap terlihat dalam antrean solar subsidi. Sebagian kendaraan bahkan tampak sudah tidak layak operasi sebagai angkutan barang.

Modus yang diduga dimainkan pun terkesan sistematis.

Beberapa truk disebut masuk antrean lebih dari satu kali. Dugaan penggunaan barcode berbeda hingga pergantian pelat nomor kendaraan disebut menjadi cara untuk mengelabui sistem pembatasan pengisian BBM subsidi.

Tak hanya itu, awak media juga menemukan adanya kendaraan yang nekat mengantre tanpa menggunakan pelat nomor, baik di bagian depan maupun belakang.

“Kalau diperhatikan, pola permainannya hampir sama. Truknya itu-itu juga. Bahkan ada yang kondisinya sudah amburadul, tapi tetap rutin antre solar,” ujar seorang sumber di sekitar lokasi.

Fenomena ini memunculkan dugaan adanya jaringan terorganisir yang bermain dalam distribusi solar subsidi. Sebab, aktivitas tersebut berlangsung terang-terangan dan seolah tanpa rasa takut terhadap pengawasan aparat.

Warga sekitar SPBU mengaku praktik seperti ini bukan hal baru. Menurut mereka, setiap kali dilakukan penertiban, aktivitas hanya berhenti sementara sebelum akhirnya kembali berjalan normal.

“Kalau ada razia memang hilang sebentar. Tapi setelah situasi dianggap aman, mereka muncul lagi. Seperti sudah tahu kapan harus berhenti dan kapan mulai bergerak lagi,” kata seorang warga.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius: ke mana aparat penegak hukum?

Pasalnya, dugaan penyalahgunaan BBM subsidi bukan sekadar pelanggaran biasa. Praktik ini dinilai merugikan negara dan membuat distribusi solar subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat dan sektor produktif menjadi tidak tepat sasaran.

Publik juga mempertanyakan lemahnya pengawasan terhadap kendaraan yang diduga tidak layak jalan, tanpa pelat nomor, namun tetap bisa bebas keluar masuk antrean SPBU.

Jika praktik ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin dugaan mafia solar subsidi di Kalimantan Barat akan semakin tumbuh subur dan sulit disentuh hukum.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun instansi terkait mengenai dugaan aktivitas pembegalan BBM subsidi tersebut*(ss/bn/sh)***

Iklan