BPOM dan Kemenkes Dorong Penguatan IGRA dan Inovasi Kesehatan Nasional

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menilai potensi sumber daya alam Indonesia sangat besar untuk dikembangkan menjadi produk farmasi bernilai tinggi.

RESPONSIVE.KALBAR.ID,JAKARTA-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya penguatan regulasi, percepatan inovasi, serta pengembangan produk kesehatan dalam negeri. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah pengembangan Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) untuk deteksi tuberkulosis (TBC).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, beban Tuberkulosis di Indonesia masih tergolong tinggi, dengan sekitar 867 ribu kasus terdiagnosis dalam satu tahun terakhir.

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan bahwa efisiensi biaya dalam pengembangan teknologi kesehatan menjadi faktor penting, terutama untuk tes diagnostik seperti IGRA.

“Kalau kita bisa bikin harga tes IGRA dari 1 juta menjadi hanya sekitar 50 ribu, dampaknya terhadap keuangan negara akan sangat besar,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Ia menekankan bahwa inovasi tersebut perlu dikawal secara lintas sektor agar dapat segera dimanfaatkan secara luas. Menurutnya, percepatan pengembangan IGRA sangat krusial dalam upaya penanggulangan TBC di Indonesia.

“Saya minta tolong nanti kita kawal bersama supaya tes IGRA ini mendapatkan atensi karena ini sangat penting untuk percepatan penanggulangan TBC di Indonesia,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wamenkes juga menyoroti kinerja BPOM yang dinilai semakin cepat dan responsif dalam mendukung proses inovasi. Hal ini turut diamini oleh perwakilan industri, termasuk Bio Farma, yang menyebut bahwa proses perizinan kini berjalan lebih lancar dibanding sebelumnya.

Selain pengembangan diagnostik, BPOM juga mendorong pemanfaatan bahan alam sebagai bagian dari strategi kemandirian sektor kesehatan nasional. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menilai potensi sumber daya alam Indonesia sangat besar untuk dikembangkan menjadi produk farmasi bernilai tinggi.

“Kalau negara punya produk sendiri, kenapa kita tidak memanfaatkannya? Dengan sumber daya yang kita miliki, seharusnya Indonesia bisa menghasilkan solusi kesehatan sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa peningkatan nilai tambah menjadi kunci dalam memperkuat industri farmasi nasional. Dari sekitar 40.000 spesies tumbuhan di dunia, sekitar 31.000 di antaranya terdapat di Indonesia dan berpotensi sebagai bahan baku obat.

“Kita ingin naikkan statusnya, bukan sekadar obat bahan alam atau obat herbal terstandar, tetapi menjadi produk farmasi yang bernilai lebih tinggi,” katanya.

BPOM menegaskan perannya dalam memastikan setiap inovasi memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu sebelum dapat digunakan secara luas oleh masyarakat.*(tb/hn/nm)**

Iklan